Sejarah Desa Grogol

  24 Maret 2017  |  DESA GROGOL

Desa Grogol merupakan salah satu desa di kabupaten Banyuwangi provinsi Jawa Timur. Yang merupakan bagian atau wilayah dari salah satu kecamatan yang berada di banyuwangi yaitu kecamatan Giri. Desa Grogol bisa diakses dari Kelurahan Giri dan Kelurahan Boyolangu. Selain itu desa ini juga menjadi akses jalan menuju desa lain seperti Desa Jambesari dan Desa Pesucen di Kecamatan Kalipuro. Dari Boyolangu, akses ke desa ini adalah belok kanan (asumsi dari arah simpang tiga Boyolangu, utara SMA Negeri 1 Glagah) di persimpangan sebelum perlintasan Kereta Api Boyolangu. Ikuti jalan hingga bertemu palang perlintasan kereta api manual lalu ikuti jalan lagi dan tiba di selatan Desa Grogol. Sedangkan dari arah Kelurahan Giri, jalan ke Desa Grogol ditempuh dengan belok kiri (dari arah Kota Banyuwangi/Penataban) di Simpang Tiga Lingkungan Payaman (simpang tiga samping Masjid Baitul Ma’wa Giri), ikuti jalan lalu sampai di batas wilayah Kelurahan Giri-Desa Grogol. Mayoritas penghuni desa ini adalah orang Osing, selain itu juga ada yang merupakan Suku Jawa. Mereka kebanyakan memang asli lahir di desa ini. Mayoritas penduduk beragama Islam. Maka di desa ini bisa banyak ditemui masjid-masjid di setiap kampung.

Menurut sebagaian masyarakat di desa Grogol tersebut Grogol mempunyai makna yaitu pada jaman dahulu sering terjadi orang yang sedang lewat atau berjalan di daerah Desa Grogol sering tersandung – sandung ( ketagol – tagol dalam bahasa osing banyuwangi). Sehingga dari alasan itulah menurut sebagian masyarakat dan tokoh masyarakat di lingkungan Desa Grogol nama GROGOL berasal. Menurut riwayat ceritanya Desa Grogol sebelum menjadi sebuah pedasaan atau pemukiman sebelumnya Desa Grogol merupakan alas/ wana (HUTAN) yang sangat lebat namun nama hutan tersebut masih belum jelas. Kemudian alas atau wana(HUTAN) tersebut di babat (ditebangi) pohon – pohonnya hingga menjadi sebuah pedesaan atau pemukiman, hal tersebut dilakukan oleh pendiri sekaligus pembabat alas atau wana dia bernama BUYUT REKSOWONO. REKSO artinya memelihara dan WONO artinya adalah hutan, jadi BUYUT REKSOWONO merupakan salah satu sesepuh Desa Grogol yang memelihara sekaligus membabat/ membuka kahan untuk dijadikan sebagai pemukiman. Dari pendapat dan cerita – cerita di atas kemungkinan BUYUT atau MBAH REKSOWONO ini merupakan orang yang pertama kali bermukim di Desa Grogol tersebut sekaligus menjadi cikal bakal berdirinya desa Grogol. Namun menurut cerita – cerita lain dari masyarakat di Desa Grogol terdapat saudara tua dari MBAH BUYUT REKSOWONO dia adalah BUYUT JIMAN.

Buyut JIMAN menurut berbagai cerita dan pendapat dari sebagian masyarakat di daerah Desa Grogol, dia bukan merupakan yang membabat alas atau hutan di daerah Grogol seperti halnya Mbah Reksowono, akan tetapi dia adalah salah satu pendatang dari pulau Bali. Nama buyut jiman ini di abadikan dalam sebuah tempat pemakaman umum di daerah desa Grogol tepatnya di dusun lebak dengan nama TPU Buyut Jiman yang didalamnya terdapat makam Buyut Jiman bersama cantrik –cantriknya (anak buahnya). Lain halnya dengan Mbah Reksowono beliau di makamkan di daerah desa grogol tepatnya dusun krajan, makam dari Mbah Reksowono ini sempat hilang atau tidak diketahui keberadaannya selama beberapa tahun, akan tetapi tidak lama ini makam dari Mbah Reksowono yang sempat tidak di ketahui keberadaannya di temukan kembali oleh salah seorang di daerah desa Grogol yang menurut cerita dirasuki oleh buyut Jiman, yang memberitahukan lokasi tempat makamnya Mbah Reksowono, hal tersebut terjadi tanpa disengaja, ketika itu di daerah desa Grogol ada orang hajatan atau nikahan sehingga oleh orang yang punya hajat dia mengutus atau menyuruh dua orang untuk berziarah di makam Buyut jiman, namun setelah jiarah salah seorang dari dua orang tersebut tiba – tiba kesurupan dan mengajak orang yang satunya ini pergi ke tempat pemakaman umum di daerah krajan, menurut keterangannya dia di ajak untuk memberitahu lokasi makam mbah Reksowono. Sehingga pada saat itulah salah satu makam dari dua pendiri atau sesepuh desa Grogol ini ditemukan.

Selain itu di Desa Grogol terdapat adat istiadat dan tradisi yang selau diadakan wajib setiap satu tahun sekali tepatnya pada bulan rajab, tradisi tersebut diberi nama sedekah deso atau ider bumi. Sedekah deso atau ider bumi tersebut diadakan dalam rangka rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan oleh yang mahakuasa selama satu tahun. Runtutan acara dari sedekah deso atau ider bumi di desa grogol ini adalah diawali dengan selametan (syukuran) di depan rumah masing – masing masyarakat yang di pimpin doa dari masjid setempat, selanjutnya pada malam hari setelah acara yang pertama, tepatnya setelah sholat magrib masyarakat desa grogol berkumpul dan membawa obor sambil mengitari jalan yang ada di daerah desa grogol tepatnya dusun krajan dan lebak, dan rombongan pembawa obor tersebut berjalan sambil melafalkan sholawat kepada nabi muhammad saw. Serta berhenti di beberapa titik yang telah di tentukan oleh sesepuh desa grogol terdahulu untuk mengumandangkan adzan sambil menghadap kiblat. Setelah itu keesokan harinya dilanjutkan dengan hiburan – hiburan kesenian seperti barongan, jaranan(kuda lumping), orkes, namun yang wajib ada setiap tahunnya adalah kesenian gandrung dan pembacaan lontar yusuf, menurut riwayat dan cerita masyarakat pernah tidak dikasih gandrung , hal yang terjadi adalah paceklik dan kekeringan, sehingga masyarakat di desa grogol tidak berani meniadakan gandrung itu lagi dan sebagian dari masyarakat desa grogol itu merupakan adat dan tradisi dari para leluhur desa grogol yang tidak dapat atau sulit di hilangkan. Tradisi ini berlangsung turun –temurun dan terus diadakan dan dilestarikan oleh masyarakat desa Grogol tiap tahunnya.

 

Contact Details

  Alamat :   Jl. Akasia No.102, Desa Grogol,Kec. Giri Kab. Banywuangi
  Email : grogol351017@gmail.com
  Telp. : +6281 1358 0612
  Instagram : grogolbwi
  Facebook : desagrogolbwi
  Twitter : @Desagrogolbwi1


© 2019,   Web Desa Kabupaten Banyuwangi